Adopsi kendaraan listrik di Amerika Serikat tidak berjalan secepat yang diharapkan para produsen otomotif global. Di tengah perlambatan tersebut, Ford Motor Company mengambil langkah strategis besar dengan memangkas ambisi pengembangan mobil listriknya. Keputusan ini diumumkan pada pertengahan Desember 2025 dan menandai perubahan arah signifikan bagi salah satu pabrikan otomotif terbesar asal Amerika Serikat itu.
Ford secara resmi menarik sejumlah rencana pengembangan kendaraan listrik berukuran besar, termasuk masa depan model ikonik F-150 Lightning. Sebagai gantinya, perusahaan akan mengalihkan fokus ke kendaraan hibrida, truk bermesin bensin yang lebih efisien, serta bisnis baru di sektor penyimpanan energi berbasis baterai. Ford juga mengungkapkan bahwa kerugian kumulatif bisnis kendaraan listrik, yang diperkirakan mencapai 19,5 miliar dolar AS, akan dihapuskan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
Langkah ini mencerminkan realitas pasar yang semakin menantang bagi kendaraan listrik, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa. Permintaan konsumen dinilai belum cukup kuat untuk menopang biaya produksi yang tinggi, sementara ketidakpastian kebijakan pemerintah turut menekan prospek jangka pendek industri EV.
Permintaan Lemah dan Biaya Tinggi Jadi Faktor Utama
Dalam beberapa tahun terakhir, Ford telah menginvestasikan dana besar untuk mengembangkan lini kendaraan listriknya. Namun, biaya operasional yang tinggi, termasuk pengembangan baterai, infrastruktur produksi, serta rantai pasok, tidak sebanding dengan pertumbuhan permintaan yang diharapkan.
CEO Ford Jim Farley menegaskan bahwa perubahan strategi ini didorong oleh realitas pasar, bukan semata-mata kegagalan teknologi. “Ini adalah pergeseran yang didorong oleh pelanggan untuk menciptakan Ford yang lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih menguntungkan. Realitas operasional telah berubah dan kami mengalokasikan kembali modal ke peluang pertumbuhan dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ford menilai bahwa konsumen saat ini lebih menerima solusi transisi seperti kendaraan hibrida, yang menawarkan efisiensi bahan bakar lebih baik tanpa ketergantungan penuh pada infrastruktur pengisian daya listrik yang masih terbatas di banyak wilayah.
Perubahan Kebijakan Pemerintah Ikut Berpengaruh
Keputusan Ford juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan kebijakan energi di Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump mencabut sejumlah standar penghematan bahan bakar ketat yang diterapkan pada era pemerintahan sebelumnya. Selain itu, Partai Republik di Kongres turut mencabut kredit pajak energi bersih yang selama ini menjadi insentif utama bagi produsen dan konsumen kendaraan listrik.
Kebijakan tersebut secara langsung mengurangi daya tarik ekonomi kendaraan listrik di pasar domestik. Jim Farley bahkan hadir saat pengumuman kebijakan baru tersebut pada awal Desember 2025 dan menyebutnya sebagai langkah yang lebih selaras dengan kondisi pasar.
“Keputusan itu menyelaraskan standar penghematan bahan bakar dengan realitas pasar. Ini kemenangan bagi pelanggan dan akal sehat,” kata Farley kala itu.
Fokus Baru: Hybrid, Bensin, dan EV Skala Kecil
Meski mengurangi ambisi pada EV besar, Ford tidak sepenuhnya meninggalkan elektrifikasi. Perusahaan justru akan berkonsentrasi pada pengembangan kendaraan listrik berukuran kecil dan lebih terjangkau, yang dinilai memiliki peluang adopsi lebih besar di pasar massal.
Selain itu, Ford berencana mengubah generasi berikutnya dari lini Lightning menjadi kendaraan hibrida, mengombinasikan tenaga baterai dengan mesin pembakaran internal. Strategi ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan konsumen yang menginginkan efisiensi tanpa kehilangan fleksibilitas penggunaan.
Di Eropa dan Amerika Utara, Ford juga membatalkan rencana produksi van listrik baru. Sebagai gantinya, pabrik di Ohio akan difokuskan untuk memproduksi kendaraan bermesin bensin dan hibrida mulai tahun 2029. Langkah serupa dilakukan di Tennessee, di mana fasilitas Tennessee Electric Vehicle Center akan dialihfungsikan menjadi Tennessee Truck Plant untuk memproduksi truk bensin yang lebih terjangkau.
Diversifikasi ke Bisnis Penyimpanan Energi
Menariknya, Ford tidak sepenuhnya menjauh dari teknologi baterai. Perusahaan justru melihat peluang baru di sektor penyimpanan energi. Ford akan menginvestasikan sekitar 2 miliar dolar AS dalam dua tahun ke depan untuk membangun bisnis penyimpanan energi berbasis baterai.
Pabrik di Kentucky akan diubah menjadi fasilitas produksi sistem penyimpanan energi yang ditujukan untuk pusat data dan perusahaan listrik. Ford menargetkan kapasitas pasokan tahunan mencapai 20 gigawatt-jam pada akhir 2027. Langkah ini menunjukkan upaya Ford untuk tetap relevan dalam transisi energi, meski dengan pendekatan yang berbeda dari kendaraan listrik penumpang.
Cerminan Tantangan Industri Otomotif Global
Langkah Ford mencerminkan tantangan yang kini dihadapi industri otomotif global. Meski kendaraan listrik tetap menjadi bagian penting dari masa depan transportasi, laju adopsinya terbukti tidak merata. Faktor harga, infrastruktur, kebijakan, dan kesiapan konsumen menjadi variabel krusial yang tidak bisa diabaikan.
Bagi Ford, strategi baru ini dianggap sebagai cara untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah ketidakpastian pasar. Perusahaan memilih pendekatan yang lebih pragmatis dengan menyesuaikan portofolio produk sesuai kebutuhan konsumen saat ini, sembari tetap membuka ruang untuk inovasi jangka panjang.
Ke depan, keputusan Ford ini berpotensi memengaruhi arah strategi pabrikan lain, khususnya di pasar Amerika Utara dan Eropa. Industri otomotif global tampaknya tengah memasuki fase evaluasi ulang, di mana elektrifikasi tetap menjadi tujuan, tetapi jalannya tidak lagi linier dan seragam seperti yang dibayangkan beberapa tahun lalu.
Baca Juga : Strategi Mazda Hadapi Dinamika Pasar Otomotif Nasional 2026
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : beritapembangunan

