Strategi Jetour Indonesia di Tengah Persaingan Otomotif Nasional
Industri otomotif Indonesia terus mengalami dinamika seiring masuknya berbagai merek global, khususnya dari China. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Jetour Motor Indonesia, yang belakangan akhirnya buka suara terkait strategi investasinya di Tanah Air. Di tengah maraknya produsen otomotif yang berlomba membangun pabrik sendiri, Jetour justru mengambil pendekatan berbeda.
Alih-alih terburu-buru membangun fasilitas manufaktur mandiri, Jetour menegaskan komitmennya untuk melanjutkan kemitraan produksi dengan Handal Indonesia Motor (HIM). Langkah ini dinilai sebagai strategi paling rasional pada fase awal ekspansi merek, terutama untuk menjaga efisiensi, kecepatan produksi, dan fleksibilitas bisnis.
Alasan Jetour Menunda Pembangunan Pabrik Sendiri
Marketing Director Jetour Motor Indonesia, Moch Ranggy Radiansyah, menjelaskan bahwa keputusan ini bukan berarti Jetour mengesampingkan rencana membangun pabrik. Sebaliknya, pembangunan pabrik sendiri tetap masuk dalam visi jangka panjang perusahaan. Namun, untuk saat ini, pendekatan kemitraan dianggap paling ideal.
Menurut Ranggy, terdapat berbagai faktor yang memengaruhi keputusan tersebut. Salah satunya adalah efisiensi biaya dan kesiapan infrastruktur. Membangun pabrik dari nol membutuhkan investasi besar, waktu panjang, serta kesiapan rantai pasok yang matang. Dalam fase awal penetrasi pasar, Jetour memilih mengalokasikan sumber daya untuk memperkuat produk, jaringan distribusi, dan layanan purna jual.
Pendekatan ini memungkinkan Jetour untuk bergerak lebih cepat masuk ke pasar Indonesia tanpa harus menunggu proses pembangunan pabrik yang memakan waktu bertahun-tahun.
Kemitraan dengan Handal Indonesia Motor Jadi Tulang Punggung Produksi
Kolaborasi antara Jetour dan Handal Indonesia Motor sejauh ini telah menghasilkan tiga model yang dirakit secara lokal, yakni Jetour Dashing, X70, dan T2. Ketiga model tersebut telah mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mendekati 40 persen, sebuah capaian yang cukup signifikan bagi merek yang relatif baru di Indonesia.
Melalui kemitraan ini, Jetour dapat memanfaatkan fasilitas produksi, tenaga kerja terlatih, serta pengalaman Handal dalam merakit kendaraan berbagai merek global. Bagi Jetour, skema ini memberikan fleksibilitas tinggi untuk menyesuaikan volume produksi dengan permintaan pasar, tanpa harus menanggung beban investasi besar sejak awal.
Sementara bagi Handal, kerja sama ini memperkuat posisinya sebagai mitra strategis bagi merek-merek otomotif internasional yang ingin masuk ke Indonesia dengan pendekatan efisien.
Efisiensi dan Kecepatan Masuk Pasar Jadi Prioritas
Salah satu alasan utama Jetour mempertahankan kemitraan adalah faktor kecepatan. Dalam industri otomotif yang sangat kompetitif, waktu menjadi variabel krusial. Dengan menitipkan produksi pada Handal, Jetour dapat segera meluncurkan model baru, menyesuaikan spesifikasi sesuai kebutuhan konsumen lokal, serta merespons perubahan tren pasar dengan lebih cepat.
Ranggy menegaskan bahwa strategi ini memungkinkan Jetour untuk fokus membangun brand awareness dan kepercayaan konsumen. Alih-alih terjebak pada proses pembangunan pabrik, perusahaan dapat mengarahkan perhatian pada kualitas produk, strategi pemasaran, serta penguatan jaringan diler di berbagai daerah.
Rencana Jangka Panjang: Pabrik Tetap Jadi Target
Meski saat ini memilih jalur kemitraan, Jetour tidak menutup kemungkinan untuk membangun pabrik sendiri di masa depan. Sebagai Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), visi jangka panjang Jetour tetap mengarah pada kemandirian produksi.
Namun, keputusan tersebut akan sangat bergantung pada berbagai faktor, seperti volume penjualan, stabilitas pasar, kebijakan pemerintah, serta kesiapan ekosistem industri pendukung. Dengan kata lain, pembangunan pabrik akan dilakukan ketika kondisi dinilai benar-benar matang dan berkelanjutan.
Pendekatan bertahap ini mencerminkan kehati-hatian Jetour dalam mengelola investasi, sekaligus menunjukkan bahwa perusahaan tidak ingin sekadar hadir, tetapi tumbuh secara sehat di pasar Indonesia.
Penguatan Layanan Purna Jual Jadi Fokus Tambahan
Selain produksi, Jetour Motor Indonesia juga menaruh perhatian besar pada layanan purna jual. Saat ini, perusahaan tengah mengembangkan pusat distribusi suku cadang di Cikarang, Jawa Barat. Gudang seluas sekitar 2,4 hektare tersebut disiapkan untuk menampung lebih dari 25 ribu unit suku cadang.
Fasilitas ini akan menyimpan berbagai jenis komponen, mulai dari fast moving parts hingga slow moving parts. Tujuannya adalah memastikan ketersediaan suku cadang yang cepat dan merata di seluruh jaringan diler Jetour di Indonesia.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Jetour tidak hanya berfokus pada penjualan unit, tetapi juga pada pengalaman kepemilikan jangka panjang bagi konsumen.
Strategi Realistis di Tengah Ketatnya Industri Otomotif
Di tengah kondisi industri otomotif yang masih menghadapi tantangan, seperti fluktuasi penjualan dan berakhirnya berbagai insentif, strategi Jetour dinilai cukup realistis. Dengan mengandalkan kemitraan, perusahaan dapat menekan risiko finansial sekaligus tetap memenuhi regulasi lokal, termasuk TKDN.
Model bisnis ini juga sejalan dengan pendekatan sejumlah merek global lain yang memilih masuk pasar Indonesia secara bertahap, sebelum memutuskan investasi besar dalam bentuk pabrik mandiri.
Kesimpulan: Fokus Bertumbuh, Bukan Sekadar Ekspansi
Keputusan Jetour Indonesia untuk melanjutkan kemitraan dengan Handal Indonesia Motor menunjukkan pendekatan yang pragmatis dan terukur. Di tengah persaingan ketat dan tantangan global, Jetour memilih jalur efisiensi dan kecepatan, sambil tetap menyiapkan fondasi jangka panjang.
Dengan produksi lokal yang terus berjalan, TKDN yang meningkat, serta penguatan layanan purna jual, Jetour berupaya membangun kepercayaan konsumen secara bertahap. Pabrik sendiri mungkin belum terwujud dalam waktu dekat, namun arah dan komitmen jangka panjang Jetour di Indonesia sudah terlihat jelas.
Langkah ini menegaskan bahwa dalam industri otomotif, strategi yang tepat bukan selalu tentang siapa yang paling cepat membangun pabrik, melainkan siapa yang paling siap bertumbuh secara berkelanjutan.
Baca Juga : Industri Otomotif Global Bergejolak, Volkswagen Tutup Pabrik dan Hadapi Gelombang Restrukturisasi
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : kabarsantai

