Fenomena kecintaan terhadap mobil klasik di Indonesia kerap diasosiasikan dengan kalangan dewasa atau kolektor senior. Namun anggapan tersebut mulai terpatahkan dengan munculnya komunitas Anak Muda Pecinta Mobil Klasik (ASIK). Komunitas ini membuktikan bahwa mobil tua bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan juga medium ekspresi gaya hidup generasi muda yang berani tampil berbeda.
ASIK sendiri diisi oleh puluhan anak muda berusia di bawah 30 tahun yang memilih merawat dan menggunakan mobil klasik sebagai kendaraan harian maupun hobi. Bagi mereka, mobil klasik bukan beban, melainkan sumber cerita, pengalaman, dan identitas. Di tengah dominasi mobil modern yang seragam, kehadiran mobil tua justru memberi karakter yang kuat.
Konvoi Akhir Pekan yang Menarik Perhatian
Pada akhir pekan lalu, komunitas ASIK menggelar agenda rutin berupa konvoi santai. Kegiatan ini dimulai dari kawasan Cilandak Town Square dan berakhir di Pantai Indah Kapuk. Sejak pagi hari, area parkir sudah dipenuhi deretan mobil klasik dari berbagai merek dan generasi.
Sebelum berangkat, seluruh peserta melakukan doa bersama dan briefing singkat. Panitia menekankan pentingnya tertib berlalu lintas, menjaga jarak antar kendaraan, serta menghormati pengguna jalan lain. Meski bersifat santai, konvoi tetap dijalankan dengan disiplin, mencerminkan kedewasaan komunitas dalam berkendara.
Rolling santai ini bukan hanya ajang pamer mobil. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi anak muda dengan minat yang sama, sekaligus cara memperkenalkan mobil klasik ke publik secara positif.
Puluhan Mobil Klasik dari Berbagai Merek
Antusiasme peserta terlihat dari jumlah kendaraan yang ikut serta. Lebih dari 30 unit mobil klasik hadir dalam konvoi tersebut. Deretannya cukup beragam, mulai dari Mercedes-Benz, BMW, Toyota, Volkswagen, Volvo, Honda, hingga Suzuki keluaran lawas.
Meski demikian, Mercedes-Benz klasik menjadi merek yang paling mendominasi. Hal ini tidak lepas dari reputasi mobil Jerman tersebut yang dikenal tangguh, nyaman, dan memiliki desain elegan yang menua dengan indah. Banyak di antara mobil-mobil tersebut masih digunakan untuk aktivitas harian oleh pemiliknya.
Konvoi ini pun menyedot perhatian masyarakat. Sepanjang perjalanan menuju PIK, tidak sedikit pengguna jalan yang mengabadikan momen iring-iringan mobil klasik tersebut. Keberadaan mobil tua yang terawat rapi di jalan raya menjadi pemandangan yang jarang ditemui di tengah lalu lintas perkotaan.
Imam Darto dan Kehadiran Mercy Barong Langka
Salah satu momen paling menarik dalam konvoi ini adalah kehadiran Imam Darto. Komedian dan presenter tersebut turut bergabung bersama ASIK dengan membawa mobil klasik yang tergolong langka.
Imam Darto hadir menggunakan Mercedes-Benz S-Class produksi 1975 dengan kode bodi W116. Di Indonesia, mobil ini lebih dikenal dengan sebutan Mercy Barong. Mobil berwarna biru tersebut tampil dalam kondisi sangat terawat, mulai dari eksterior hingga interiornya.
Kehadiran Mercy Barong ini langsung menjadi pusat perhatian peserta konvoi. Banyak anggota komunitas yang mendekat untuk melihat detail mobil dari dekat, sekaligus berdiskusi seputar sejarah dan karakter kendaraan tersebut. Bagi para pecinta mobil klasik, Mercy Barong bukan sekadar kendaraan, melainkan simbol era keemasan Mercedes-Benz.
Mengubah Cara Pandang Anak Muda
Di balik kemeriahan konvoi, ASIK membawa misi yang lebih dalam. Komunitas ini ingin mengubah stigma bahwa mobil klasik identik dengan mogok, boros, dan tidak praktis. Menurut pengurus ASIK, persepsi tersebut muncul karena kurangnya pemahaman soal perawatan mobil tua.
“Mobil klasik itu bukan untuk ditinggalkan, tapi untuk dirawat. Kalau dirawat dengan benar, justru sangat menyenangkan dipakai,” ungkap salah satu pengurus ASIK. Ia menambahkan bahwa banyak mobil modern yang juga bermasalah jika tidak dirawat, sehingga usia kendaraan seharusnya tidak menjadi satu-satunya tolok ukur.
ASIK juga ingin menanamkan rasa bangga pada generasi muda terhadap sejarah otomotif. Dengan menggunakan mobil klasik, anak muda diajak untuk mengenal teknologi, desain, dan filosofi otomotif di masa lalu yang berbeda dengan era sekarang.
Bukan Soal Gengsi, Tapi Cerita
Bagi anggota ASIK, mobil klasik bukan alat untuk mencari gengsi. Justru sebaliknya, mobil tua sering menjadi bahan obrolan yang membuka interaksi dengan banyak orang. Tidak jarang pemilik mobil klasik diajak berbincang oleh orang asing yang penasaran dengan kendaraan yang digunakan.
Cerita soal perjuangan merawat mobil, mencari onderdil, hingga pengalaman berkendara menjadi bagian tak terpisahkan dari hobi ini. Hal inilah yang membuat mobil klasik terasa lebih “hidup” dibanding mobil baru yang serba instan.
Terbuka untuk Semua Pecinta Mobil Tua
Menariknya, ASIK tidak menerapkan syarat ketat untuk bergabung. Tidak harus memiliki mobil klasik tertentu, bahkan mereka yang masih menggunakan mobil modern namun memiliki ketertarikan pada mobil tua tetap dipersilakan bergabung.
Komunitas ini lahir dari semangat inklusif dan keinginan saling berbagi. Pendiri ASIK sendiri pernah mengalami stigma negatif karena kecintaannya pada mobil klasik di usia muda. Dari pengalaman itulah, ASIK dibentuk sebagai ruang aman bagi anak muda yang memiliki minat serupa.
Mobil Klasik dan Masa Depan Komunitas
Ke depan, ASIK berencana menggelar lebih banyak kegiatan, mulai dari konvoi tematik, diskusi perawatan mobil, hingga kolaborasi dengan komunitas otomotif lain. Tujuannya sederhana, menjaga silaturahmi sekaligus memperluas apresiasi terhadap mobil klasik di kalangan generasi muda.
Konvoi akhir pekan ini menjadi bukti bahwa mobil klasik tidak pernah kehilangan daya tariknya. Di tangan anak muda, kendaraan tua justru menemukan napas baru sebagai simbol gaya hidup, kreativitas, dan kecintaan pada sejarah otomotif.
Baca Juga : Toyota Hilux GR Rangga IMX 2025, Tenaga Naik 2x Lipat
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : festajunina

