Industri Otomotif Menunggu Kepastian Kebijakan BBM Bersih
Transisi menuju energi bersih di sektor transportasi Indonesia masih menghadapi tantangan mendasar, salah satunya soal kepastian kebijakan bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan. Di tengah dorongan global untuk menurunkan emisi karbon dan mempercepat penggunaan energi berkelanjutan, industri otomotif nasional justru berada dalam posisi “menunggu”. Bukan karena ketidaksiapan teknologi, melainkan karena belum adanya konsistensi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Industri otomotif Indonesia mengungkapkan bahwa kajian dan uji coba BBM ramah lingkungan sebenarnya telah dilakukan sejak lebih dari satu dekade lalu. Namun hingga kini, implementasi di lapangan masih berjalan sangat lambat. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang arah kebijakan energi nasional, khususnya pada sektor transportasi darat yang menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar.
Kesiapan Industri Sejak 2009
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, menegaskan bahwa industri otomotif tidak memulai dari nol. Menurutnya, kajian teknis dan uji coba penggunaan BBM ramah lingkungan sudah dilakukan sejak 2009.
“2009 kita sudah melakukan kajian, percobaannya—itu menjadi pertanyaan: kapan dipakai?” ujar Kukuh dalam diskusi yang diselenggarakan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) terkait transisi energi sektor transportasi.
Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan pelaku industri. Selama bertahun-tahun, pabrikan kendaraan telah menyesuaikan teknologi mesin agar kompatibel dengan bahan bakar yang lebih bersih, termasuk campuran bioetanol. Namun kesiapan teknis tersebut belum diikuti oleh kebijakan implementatif yang tegas.
Masalah Utama: Inkonsistensi Regulasi
Menurut Kukuh, persoalan terbesar bukan terletak pada teknologi kendaraan, melainkan pada inkonsistensi regulasi. Ia mencontohkan penerapan standar emisi Euro 4 yang sebenarnya telah diatur sejak lama, namun baru benar-benar diterapkan pada 2022 untuk kendaraan diesel.
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 20 Tahun 2017 tentang penerapan Euro 4 seharusnya menjadi pijakan penting dalam perbaikan kualitas udara. Namun, implementasi yang tertunda menunjukkan lemahnya konsistensi kebijakan.
“Masalah bahan bakar ini masalah konsistensi. Konsistensi bahwa ini yang akan kita gunakan,” tegas Kukuh.
Inkonsistensi tersebut berdampak langsung pada keputusan industri. Produsen kendaraan membutuhkan kepastian jangka panjang untuk menentukan spesifikasi mesin, investasi riset, hingga strategi produksi. Tanpa kepastian, inovasi berisiko menjadi sia-sia.
Uji Coba Sudah Sampai E20
Lebih jauh, Kukuh mengungkapkan bahwa industri otomotif bahkan telah melakukan uji coba penggunaan BBM dengan campuran bioetanol hingga E20 (20 persen etanol). Namun hingga kini, pemerintah belum memberikan kejelasan kapan campuran tersebut akan diterapkan secara luas.
“Ngapain kita mengembangkan sesuatu yang ujung-ujungnya tidak dipakai?” kritik Kukuh.
Pertanyaan ini mencerminkan dilema industri. Di satu sisi, tuntutan global mendorong pabrikan untuk memproduksi kendaraan yang lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, pasar domestik belum didukung oleh kebijakan bahan bakar yang sejalan dengan teknologi kendaraan yang tersedia.
Kendaraan Sudah Siap, BBM Tertinggal
Ironisnya, menurut Gaikindo, mayoritas kendaraan yang diproduksi setelah tahun 2000 sebenarnya sudah kompatibel dengan campuran bioetanol E10. Artinya, dari sisi kendaraan, Indonesia tidak tertinggal jauh.
“Kita sudah siap dari 2009, tapi 16 tahun kemudian masih baru E5,” keluh Kukuh.
Saat ini, implementasi campuran bioetanol di Indonesia masih berada di kisaran E5 (5 persen etanol). Padahal, banyak negara lain telah melangkah lebih jauh dengan E10 bahkan E20 sebagai standar nasional. Keterlambatan ini membuat potensi penurunan emisi dan pengurangan ketergantungan pada BBM fosil belum optimal.
Dampak bagi Transisi Energi Nasional
Ketidakpastian kebijakan BBM bersih bukan hanya berdampak pada industri otomotif, tetapi juga pada agenda besar transisi energi nasional. Sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar, sehingga peralihan ke BBM yang lebih bersih menjadi krusial.
Tanpa kebijakan yang konsisten, upaya menurunkan emisi gas rumah kaca akan berjalan lebih lambat. Selain itu, ketidakjelasan arah kebijakan juga berpotensi menghambat investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, yang ingin masuk ke ekosistem kendaraan rendah emisi di Indonesia.
Kepastian Kebijakan Jadi Kunci
Pelaku industri menilai bahwa pemerintah perlu segera menentukan peta jalan (roadmap) BBM bersih yang jelas, terukur, dan konsisten. Roadmap tersebut harus mencakup target campuran bioetanol, jadwal implementasi, kesiapan infrastruktur distribusi, serta sinkronisasi dengan standar emisi kendaraan.
Kepastian ini penting agar industri dapat merencanakan investasi jangka panjang, termasuk pengembangan mesin, produksi lokal, dan transfer teknologi. Tanpa kepastian, industri akan cenderung bersikap defensif dan menahan ekspansi inovasi.
Antara Elektrifikasi dan BBM Bersih
Di tengah tren elektrifikasi kendaraan, Kukuh menilai BBM bersih tetap memiliki peran penting, terutama dalam masa transisi. Tidak semua wilayah Indonesia siap dengan infrastruktur kendaraan listrik, sehingga optimalisasi BBM rendah emisi menjadi solusi antara yang realistis.
Kendaraan hybrid, misalnya, masih sangat bergantung pada kualitas bahan bakar. Tanpa BBM yang sesuai standar, manfaat teknologi hybrid dalam menurunkan emisi tidak akan maksimal.
Penutup: Menunggu Kejelasan Arah
Industri otomotif Indonesia sejatinya tidak menolak perubahan. Sebaliknya, industri mengklaim telah siap sejak lama untuk mendukung penggunaan BBM ramah lingkungan. Namun kesiapan tersebut membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.
Pernyataan Gaikindo menjadi pengingat bahwa transisi energi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal keberanian pemerintah dalam mengambil keputusan dan menjaga konsistensi implementasi. Tanpa kepastian kebijakan BBM bersih, industri otomotif akan terus berada dalam posisi menunggu—siap bergerak, tetapi tertahan di garis start.
Baca Juga : Kaleidoskop 2025 Pameran Gaikindo Jual 60 Ribu Unit
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : zonamusiktop

