Pasar mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) di Cina selama beberapa tahun terakhir sering dipandang sebagai simbol keberhasilan transisi energi global. Penjualan yang melonjak, inovasi teknologi yang cepat, serta harga kendaraan yang semakin terjangkau membuat Tiongkok menjadi pusat pertumbuhan EV dunia. Namun memasuki 2026, optimisme tersebut mulai dibayangi kekhawatiran serius. Banyak analis memperkirakan pasar EV Cina justru akan menghadapi pelambatan signifikan, bahkan potensi penurunan penjualan hingga sekitar lima persen.
Kondisi ini bukan muncul tanpa sebab. Salah satu faktor utama yang menekan industri adalah perang harga yang tak kunjung usai. Strategi banting harga memang berhasil menarik konsumen dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka menengah dan panjang justru menggerus fondasi bisnis para produsen.
Penjualan Melambat, Persaingan Makin Brutal
Menurut laporan Carscoops yang dikutip pada akhir Desember, pasar EV Cina memasuki fase yang jauh lebih kompetitif dibanding beberapa tahun sebelumnya. Jika sebelumnya pertumbuhan pasar masih mampu “menutupi” kerugian sebagian produsen, kini situasinya berubah. Permintaan mulai melandai, sementara jumlah pemain tetap sangat banyak.
Akibatnya, perang harga menjadi senjata utama untuk mempertahankan volume penjualan. Diskon besar, potongan insentif, hingga pemangkasan margin dilakukan hampir di semua segmen. Dari mobil listrik murah untuk perkotaan hingga SUV listrik kelas menengah, harga ditekan serendah mungkin.
Namun, strategi ini membawa konsekuensi serius. Banyak produsen tidak lagi memiliki ruang untuk mencetak keuntungan, sementara biaya operasional dan investasi terus meningkat.
Investasi Besar, Margin Tipis
Industri mobil listrik bukan sekadar soal produksi massal. Di balik satu model EV, terdapat biaya riset dan pengembangan (R&D) yang sangat besar, mulai dari teknologi baterai, perangkat lunak, hingga sistem keselamatan. Di Cina, persaingan inovasi berjalan sangat cepat, memaksa produsen terus berinvestasi agar tidak tertinggal.
Masalahnya, ketika harga jual terus ditekan, investasi tersebut sulit dikonversi menjadi keuntungan. Yin Ran, seorang angel investor, menyebut kondisi ini sebagai ujian bertahan hidup bagi industri otomotif Cina. Menurutnya, hanya produsen yang sudah memiliki basis keuntungan kuat yang mampu melewati badai ini.
Dalam konteks ini, beberapa nama besar seperti BYD, Seres, dan Li Auto kerap disebut sebagai pihak yang relatif lebih siap. Skala produksi besar, efisiensi rantai pasok, serta dukungan teknologi internal memberi mereka bantalan yang lebih tebal dibanding pemain kecil.
Hanya 10 Persen yang Untung?
Situasi ini diperkuat oleh riset dari AlixPartners yang menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, hanya sekitar 10 persen merek mobil listrik Cina yang diperkirakan mampu mencetak keuntungan. Artinya, mayoritas pemain berada di zona merah atau setidaknya berjuang keras untuk sekadar bertahan.
Angka ini menjadi alarm keras bagi industri. Dengan puluhan merek EV bermunculan di Cina dalam satu dekade terakhir, risiko konsolidasi besar-besaran atau bahkan kebangkrutan massal menjadi semakin nyata. Jika banyak produsen gagal bertahan, dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga di pasar global.
Dampak Global Tak Terelakkan
Cina saat ini merupakan eksportir EV terbesar di dunia. Banyak merek asal Tiongkok telah menembus pasar Eropa, Asia Tenggara, hingga Amerika Latin dengan menawarkan harga kompetitif. Jika perang harga di dalam negeri terus berlanjut dan memicu krisis keuangan produsen, efek domino bisa terjadi di pasar internasional.
Gangguan pasokan, perubahan strategi ekspor, hingga penarikan model tertentu dari pasar global menjadi skenario yang mungkin terjadi. Industri otomotif dunia yang tengah beradaptasi menuju elektrifikasi pun ikut terdampak, terutama negara-negara yang mulai bergantung pada impor EV dari Cina.
Perang Harga Masih Akan Berlanjut
Meski risiko kian besar, para analis sepakat bahwa perang harga belum akan berhenti dalam waktu dekat. Paul Gong, Kepala Riset Otomotif Cina di UBS, menyatakan bahwa strategi ini masih akan terus digunakan selama beberapa tahun ke depan.
Menurutnya, selama kapasitas produksi masih berlebih dan permintaan tidak tumbuh secepat sebelumnya, harga akan tetap menjadi senjata utama. Namun, pendekatan ini ibarat pedang bermata dua. Konsumen diuntungkan dalam jangka pendek, tetapi produsen menanggung tekanan finansial yang semakin berat.
Perlu Strategi Baru di Luar Harga
Banyak pengamat menilai bahwa produsen EV Cina harus mulai mengubah pendekatan. Mengandalkan harga murah semata tidak lagi cukup untuk menjamin keberlanjutan bisnis. Diferensiasi produk, kualitas layanan purna jual, keandalan perangkat lunak, hingga ekosistem pengisian daya menjadi faktor yang semakin penting.
Selain itu, fokus pada efisiensi internal dan segmentasi pasar juga dinilai krusial. Tidak semua produsen harus bermain di volume besar. Beberapa bisa bertahan dengan menyasar ceruk pasar tertentu, menawarkan teknologi unik, atau membangun citra merek yang kuat.
2026 Jadi Tahun Penentuan
Memasuki 2026, pasar EV Cina diprediksi menjadi arena seleksi alam bagi industri otomotif. Produsen yang memiliki fondasi keuangan kuat, teknologi matang, dan strategi jangka panjang akan bertahan. Sebaliknya, pemain yang hanya mengandalkan diskon agresif tanpa cadangan modal berisiko tersingkir.
Bagi dunia, dinamika ini patut dicermati. Apa yang terjadi di Cina sering kali menjadi cerminan arah industri otomotif global. Jika perang harga terus berlanjut tanpa solusi struktural, 2026 bukan hanya menjadi tahun berat bagi pabrikan Cina, tetapi juga periode penuh tantangan bagi transisi kendaraan listrik secara global.
Baca Juga : Prediksi Mobil Baru Masuk Indonesia 2026, Hybrid & EV Dominan
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : seputardigital

