Dinamika pasar otomotif Indonesia di penghujung 2025 kian menantang. Pergeseran preferensi konsumen, tekanan daya beli, hingga kompetisi yang semakin ketat menuntut setiap merek tidak hanya adaptif, tetapi juga memiliki visi jangka panjang yang jelas. Di tengah kondisi tersebut, Mazda memantapkan langkah dengan strategi yang memadukan nilai rasional dan aspirasi emosional konsumen sebagai fondasi menghadapi 2026.
Berdasarkan laporan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) kuartal III 2025 serta analisis pasar oleh PwC Indonesia, struktur permintaan kendaraan nasional mengalami perubahan signifikan. Sejumlah segmen mencatat pelemahan, sementara segmen lain justru menunjukkan ketahanan. Kondisi ini mencerminkan konsumen Indonesia yang semakin selektif dan multidimensional dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan.
Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia (EMI), Ricky Thio, menilai perubahan ini sebagai sinyal bahwa mobil tidak lagi dipandang semata sebagai alat transportasi. Fungsi kendaraan kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan kualitas hidup pemiliknya.
“Di Indonesia, mobil memang masih menjadi means of mobility. Namun di saat yang sama, mobil juga diposisikan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup. Hal ini sejalan dengan filosofi Mazda, the joy of driving may create the joy of living,” ujar Ricky.
Stabilitas Mazda di Tengah Kompetisi yang Ketat
Memasuki paruh kedua 2025, perlambatan pasar otomotif menjadi tantangan bagi banyak pabrikan. Daya beli yang belum sepenuhnya pulih serta ketidakpastian ekonomi global turut memengaruhi kinerja industri secara keseluruhan. Namun, di tengah tekanan tersebut, Mazda mampu menjaga performa yang relatif stabil.
Pada Oktober 2025, penurunan market share Mazda tercatat hanya sebesar 0,12 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan koreksi yang dialami sejumlah merek Jepang lain yang mencapai 2–3 persen. Di level ritel, kontraksi penjualan Mazda berada di kisaran 29 persen, lebih baik dibandingkan beberapa kompetitor premium asal Jepang dan Eropa yang mengalami penurunan hingga 39–44 persen.
Stabilitas ini ditopang oleh performa konsisten model-model unggulan Mazda seperti Mazda CX-5, Mazda CX-3, dan Mazda 3 Hatchback. Ketiga model tersebut dikenal memiliki karakter desain kuat, kualitas material yang baik, serta pengalaman berkendara yang menjadi ciri khas Mazda.
“Emotional appeal adalah kekuatan kami. Konsumen tidak hanya membeli dengan logika, tetapi juga dengan rasa dan kecintaan terhadap desain serta kualitas produk Mazda,” kata Ricky.
Konsumen Semakin Rasional dalam Menghitung Nilai
Mazda menyadari bahwa konsumen Indonesia kini semakin rasional dalam mempertimbangkan Total Ownership Cost (TOC). Faktor ini mencakup biaya perawatan dan servis, biaya administrasi dan registrasi, hingga nilai jual kembali kendaraan. Dalam pasar yang sangat kompetitif, TOC menjadi salah satu dasar utama dalam menentukan pilihan.
Selain itu, keputusan pembelian juga dipengaruhi faktor eksternal seperti regulasi pemerintah, dinamika industri otomotif, serta kesiapan infrastruktur pendukung. Seluruh aspek tersebut membentuk pola konsumsi baru yang menuntut produsen untuk lebih transparan dan relevan terhadap kebutuhan konsumen.
“Indonesia adalah pasar yang sangat value competitive. Dengan banyaknya pilihan dari berbagai Agen Pemegang Merek, konsumen harus mampu menyeimbangkan perhitungan rasional seperti TOC dengan kebutuhan personal mereka,” jelas Ricky.
Mazda menilai bahwa pemenuhan aspek rasional adalah fondasi yang wajib dipenuhi. Namun, keunggulan kompetitif tidak berhenti pada efisiensi dan biaya kepemilikan semata.
Menguatkan Diferensiasi Lewat Nilai Emosional
Setelah kebutuhan rasional terpenuhi, Mazda memperkuat diferensiasi melalui nilai emosional yang tertanam dalam filosofi KODO Design dan Jinba Ittai. KODO Design menitikberatkan pada desain yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki karakter dan “jiwa” yang mampu membangun ikatan emosional dengan pemiliknya.
“Beauty is universal. Emosionalitas desain adalah bahasa yang bisa dipahami semua orang,” ujar Ricky.
Sementara itu, filosofi Jinba Ittai menekankan kesatuan antara manusia dan mesin. Mazda berupaya menciptakan pengalaman berkendara yang natural, intuitif, dan menyatu, sehingga pengemudi merasakan kendali penuh serta kenyamanan saat berada di balik kemudi.
Pendekatan ini membuat kendaraan Mazda tidak hanya diposisikan sebagai alat, tetapi sebagai partner berkendara yang menghadirkan rasa percaya diri, kenyamanan, dan kepuasan emosional.
Proyeksi Mazda Menghadapi 2026
Menghadapi 2026, Mazda memandang peluang pemulihan industri otomotif Indonesia akan berlangsung secara bertahap. Semester pertama diperkirakan masih berada pada fase stabil, sementara percepatan pertumbuhan berpotensi terjadi pada paruh kedua tahun, dengan catatan stabilitas ekonomi dan iklim kebijakan tetap kondusif.
“Kurva daya beli diharapkan kembali naik. Dengan ekosistem industri yang sehat dan kompetisi yang seimbang, pasar otomotif nasional akan menemukan momentumnya,” ungkap Ricky.
Untuk menjaga relevansi, Mazda akan menerapkan strategi segmentasi yang lebih presisi, menyasar konsumen yang menghargai kenyamanan berkendara, kualitas desain, serta nilai emosional dalam kepemilikan kendaraan. Selain itu, Mazda juga akan memperkuat kapabilitas tenaga penjualan agar lebih memahami karakter dan kebutuhan konsumen secara mendalam.
Komitmen Jangka Panjang dan Penguatan Ekosistem
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang di Indonesia, Mazda juga berinvestasi dalam penguatan ekosistem melalui pembangunan Training Center baru. Fasilitas ini dirancang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mulai dari tim penjualan hingga layanan purna jual, sehingga pengalaman pelanggan tetap konsisten dari awal hingga akhir masa kepemilikan.
“Training Center ini adalah bukti bahwa Mazda hadir bukan hanya sebagai brand, tetapi sebagai ekosistem yang mendukung pengalaman pemilik secara menyeluruh,” tegas Ricky.
Dengan memadukan logika melalui efisiensi dan biaya kepemilikan, serta rasa melalui desain dan pengalaman berkendara, Mazda menempatkan diri sebagai merek yang adaptif dan relevan menghadapi dinamika pasar otomotif Indonesia menuju 2026.
Baca Juga : Strategi Mazda Hadapi Dinamika Pasar Otomotif 2026
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : beritajalan

