Pasar motor listrik di Indonesia sepanjang 2025 menghadapi tantangan berat. Harapan akan lonjakan penjualan kendaraan roda dua berbasis listrik belum sepenuhnya terwujud. Alih-alih tumbuh agresif seperti yang diproyeksikan beberapa tahun lalu, realisasi pasar justru bergerak lambat dan cenderung moderat. Kondisi ini membuat industri harus kembali menghitung ulang strategi agar tetap bertahan di tengah dinamika kebijakan dan perubahan perilaku konsumen.
Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia atau Aismoli menjadi salah satu pihak yang secara terbuka mengakui kondisi pasar yang sedang tidak ideal. Melalui pernyataan resminya, asosiasi menilai bahwa kinerja motor listrik pada 2025 belum sesuai dengan ekspektasi awal.
Penjualan Motor Listrik Bergerak Moderat
Ketua Umum Aismoli, Budi Setiyadi, menyebutkan bahwa penjualan motor listrik hingga akhir 2025 masih berjalan secara bertahap dan relatif moderat. Artinya, tidak terjadi kontraksi ekstrem, tetapi juga belum terlihat akselerasi yang signifikan.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan realitas di lapangan, di mana minat masyarakat terhadap motor listrik masih ada, namun belum cukup kuat untuk mendorong lonjakan penjualan. Faktor harga, kepercayaan terhadap teknologi, hingga ketersediaan ekosistem pendukung masih menjadi pertimbangan utama calon konsumen.
Meski demikian, Aismoli menilai permintaan di penghujung tahun masih menunjukkan geliat. Desember 2025 dipandang sebagai periode yang tetap menyimpan peluang, meskipun skalanya belum sebesar yang diharapkan industri.
Target 2025 Belum Tercapai
Jika dibandingkan dengan proyeksi awal, realisasi pasar motor listrik 2025 memang tertinggal. Banyak pelaku industri sebelumnya optimistis bahwa adopsi kendaraan listrik roda dua akan semakin masif seiring meningkatnya kesadaran lingkungan dan dorongan transisi energi.
Namun, menurut Aismoli, sejumlah faktor eksternal membuat target tersebut sulit dicapai. Salah satunya adalah ketidakpastian kebijakan, khususnya terkait insentif dan subsidi yang sangat memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Kondisi ekonomi global dan domestik juga ikut memberi tekanan. Dalam situasi di mana daya beli masyarakat harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, motor listrik sering kali belum menjadi prioritas utama.
Strategi Organik Jadi Andalan Industri
Di tengah situasi pasar yang menantang, anggota Aismoli memilih untuk menempuh strategi bertahan yang lebih realistis. Fokus utama diarahkan pada pertumbuhan organik, bukan ekspansi agresif.
Strategi ini meliputi penguatan kualitas produk, peningkatan layanan purna jual, serta edukasi konsumen mengenai manfaat jangka panjang motor listrik. Industri menyadari bahwa membangun kepercayaan pasar membutuhkan waktu, terutama untuk teknologi yang relatif baru di mata sebagian besar masyarakat.
Layanan purna jual menjadi salah satu kunci penting. Ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel, dan layanan purna jual yang jelas dinilai mampu mengurangi keraguan konsumen terhadap motor listrik.
Subsidi Belum Turun, Pasar Tertahan
Salah satu isu yang paling disorot Aismoli adalah belum terealisasinya subsidi motor listrik pada 2025. Subsidi selama ini dipandang sebagai faktor krusial dalam mendorong adopsi kendaraan listrik, terutama di segmen roda dua yang sangat sensitif terhadap harga.
Aismoli menyatakan memahami dinamika kebijakan pemerintah yang tengah berjalan. Industri memilih bersikap adaptif dan mengikuti arah kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran menteri.
Meski tanpa subsidi, Aismoli menilai industri motor listrik nasional masih mampu tumbuh secara organik. Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan dan efisiensi energi perlahan meningkat, meskipun dampaknya belum terasa masif dalam angka penjualan.
Data SRUT Jadi Cermin Kelesuan Pasar
Kondisi lesunya pasar motor listrik 2025 juga tercermin dari data Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT). Hingga periode Januari sampai 9 Desember 2025, tercatat hanya 55.059 unit motor listrik yang memperoleh SRUT.
Angka ini menunjukkan penurunan cukup tajam jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2024, jumlah motor listrik yang mengantongi SRUT mencapai 77.078 unit. Artinya, terjadi koreksi sekitar 28,6 persen pada 2025.
Sementara itu, pada 2023 tercatat 62.409 unit motor listrik telah mendapatkan SRUT. Jika dibandingkan dengan capaian tersebut, performa 2025 masih berada di bawah tren yang diharapkan.
SRUT sendiri merupakan dokumen krusial yang diterbitkan oleh Kementerian Perhubungan dan berfungsi sebagai “akta lahir” kendaraan sebelum dapat dipasarkan secara legal.
Tantangan Kepercayaan dan Ekosistem
Selain faktor harga dan subsidi, tantangan lain yang dihadapi pasar motor listrik adalah soal kepercayaan konsumen. Banyak masyarakat masih ragu terhadap daya tahan baterai, biaya penggantian komponen, serta nilai jual kembali motor listrik.
Ekosistem pendukung seperti stasiun pengisian, layanan baterai, dan edukasi teknis juga belum merata di seluruh wilayah. Di kota besar, fasilitas ini mulai berkembang, tetapi di daerah, keterbatasan infrastruktur masih menjadi hambatan nyata.
Aismoli menilai bahwa pembangunan ekosistem harus berjalan seiring dengan penjualan. Tanpa ekosistem yang kuat, adopsi motor listrik akan sulit tumbuh secara berkelanjutan.
Potensi Jangka Panjang Masih Terbuka
Meski 2025 menjadi tahun yang berat, Aismoli tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang motor listrik di Indonesia. Pasar domestik yang besar, kebutuhan mobilitas tinggi, serta komitmen transisi energi menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan di masa depan.
Industri berharap adanya kepastian kebijakan dan dukungan ekosistem yang lebih konsisten ke depan. Dengan kombinasi regulasi yang jelas, insentif yang tepat sasaran, serta inovasi produk yang relevan, motor listrik diyakini dapat kembali menemukan momentum pertumbuhannya.
Ujian Ketahanan Industri Motor Listrik
Tahun 2025 dapat dikatakan sebagai fase ujian bagi industri motor listrik nasional. Bukan hanya soal penjualan, tetapi juga soal ketahanan bisnis, adaptasi strategi, dan kemampuan membangun kepercayaan pasar.
Aismoli melihat situasi ini sebagai proses pendewasaan industri. Mereka yang mampu bertahan dan berinovasi di tengah pasar yang lesu berpeluang menjadi pemain kuat ketika kondisi pasar kembali membaik.
Dengan demikian, meskipun pasar motor listrik 2025 masih lesu, cerita industri ini belum berakhir. Justru, fase ini menjadi penentu arah dan fondasi bagi pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.
Baca Juga : Malam Tahun Baru 2026 Jakarta Steril dari Mobil Pribadi
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : marihidupsehat

